NUNUKAN – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Nunukan meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik menyikapi meningkatnya kasus flu musiman.
Masyarakat diimbau lebih fokus menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh, terutama di tengah musim hujan yang sedang berlangsung.
Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Nunukan, Hj. Miskia, S.Si., Apt., M.M., mengatakan bahwa flu merupakan penyakit musiman yang biasa terjadi dan tidak perlu ditanggapi dengan kekhawatiran berlebihan, termasuk isu yang menyebut adanya super flu.
“Flu itu penyakit musiman, masyarakat tidak perlu khawatir dengan yang disebut super flu, karena sebenarnya itu juga flu biasa,” ujar Miskia, Senin (19/01/2025).
Ia menjelaskan bahwa kondisi cuaca saat ini, ditambah dengan musim buah, menjadi salah satu faktor meningkatnya kasus flu di masyarakat.
Oleh karena itu, penerapan pola hidup sehat menjadi langkah utama untuk mencegah penularan.
“Sekarang ini musim hujan dan musim buah, kami harapkan masyarakat menjaga kesehatan dengan istirahat yang cukup, makan makanan bergizi, dan minimal berolahraga 15 menit, hidup dengan pola Germas itu yang perlu kita jalankan,” katanya.
Terkait isu super flu, Miskia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus di Kabupaten Nunukan.
Ia menyebut istilah tersebut tidak perlu ditakuti karena penanganannya sama dengan flu pada umumnya.
“Di Kabupaten Nunukan belum ada super flu, penanganannya sama seperti flu biasa, waktu pemulihan juga tergantung daya tahan tubuh, biasanya satu sampai dua minggu itu masih normal,” jelasnya.
Ia menyarankan masyarakat untuk segera beristirahat jika mulai merasakan gejala flu dan tidak memaksakan diri beraktivitas.
Selain itu, pemenuhan gizi dan asupan vitamin juga penting untuk menjaga kekebalan tubuh.
“Kalau merasa badan tidak enak, cukup istirahat, makan makanan bergizi, bila perlu minum obat flu, jangan lupa minum vitamin, dan tetap jaga protokol kesehatan,” ucap Miskia.
Miskia menekankan bahwa kepedulian masyarakat terhadap kesehatan diri sendiri dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan, termasuk memperhatikan kelompok rentan seperti ibu hamil.
“Kami sangat menyarankan masyarakat peduli dengan kesehatannya sendiri dan juga lingkungan sekitarnya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa upaya peningkatan kesehatan masyarakat tidak dapat dilakukan oleh Dinas Kesehatan saja.
Dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat serta lintas sektor sangat diperlukan agar program-program kesehatan dapat berjalan optimal.
“Kami dari Dinas Kesehatan tidak bisa maksimal tanpa dukungan lintas sektor lainnya, kami sudah melakukan sosialisasi, tetapi kami juga membutuhkan peran masyarakat dan lintas sektor untuk bersama-sama menyebarkan informasi kesehatan agar masyarakat menjadi lebih sehat,” tutupnya. (*dkisp)






