NUNUKAN – Pada tahun 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan mencatat sebanyak 2.816 orang sebagai terduga Tuberkulosis (TBC).
Di antaranya menyerang anak-anak, termasuk bayi di bawah dua tahun (baduta), kondisi ini membuat TBC pada anak menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Nunukan Hj. Miskia, S.Si., Apt., M.M., mengatakan, setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, 545 orang dinyatakan positif TBC dan masuk dalam data kasus.
Dari jumlah tersebut, 100 kasus terjadi pada anak-anak, termasuk bayi di bawah dua tahun (baduta), dan jumlah kasus TBC di Kabupaten Nunukan tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 378 kasus TB.
“Kasus TBC kita di tahun 2025 ini berasal dari semua kelompok usia, sekarang data anak sudah kita pisahkan, dan jumlahnya cukup tinggi,” ujar Miskia, Selasa (20/01/2025)
Kepala Dinas Kesehatan, menegaskan bahwa kasus TBC pada anak menjadi perhatian serius karena penularannya yang cepat, terutama di lingkungan keluarga.
“Rata-rata anak yang terkena TBC itu karena ada penularan dari orang tuanya, apalagi kalau imun anaknya rendah, penularannya sangat cepat,” katanya.
Selain faktor penularan dari orang tua, kondisi lingkungan tempat tinggal juga berpengaruh.
“Kalau tinggal di rumah yang padat, ventilasinya kurang, dan cahaya mataharinya minim, itu memang mempercepat penularan TBC,” tambahnya.
Miskia, mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap gejala awal TBC, terutama batuk yang tidak kunjung sembuh.
“Masih banyak orang tua yang menganggap batuk anak itu batuk biasa, misalnya karena minum es, akhirnya tidak segera dibawa periksa,” ujarnya.
Padahal, pemeriksaan sejak dini sangat penting untuk mencegah penularan lebih luas.
“Sekarang ini, batuk tiga hari saja sudah harus diperiksa, jangan dibiarkan, karena kalau itu TBC, penularannya cepat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, TBC pada anak sering kali berawal dari penyakit lain seperti pneumonia, lalu terdeteksi setelah pemeriksaan lanjutan.
“Awalnya bisa pneumonia, kemudian setelah diperiksa DCM atau tuberculin, ternyata positif BTA, jadi banyak faktor yang memengaruhi,” jelasnya.
Sebagai langkah pengendalian TBC, Pemerintah Kabupaten Nunukan terus memberikan pengobatan rutin kepada pasien TBC serta edukasi kepada keluarga penderita.
“Pasien kita berikan obat rutin, orang tua juga kita sampaikan untuk memakai masker di rumah dan minum obat teratur,” katanya.
Keluarga pasien juga diimbau untuk menjaga daya tahan tubuh dan mengurangi kontak langsung dengan penderita TBC.
“Imunitas keluarga harus dijaga, makan makanan bergizi, minum vitamin, pakai masker, dan hindari kontak langsung dengan penderita,” pungkasnya.
Miskia berharap, dengan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan keluarga dan pemeriksaan dini, penularan TBC dapat ditekan dan anak-anak terlindungi dari risiko penyakit menular ini. (*dkisp)






