NUNUKAN – Bank Indonesia (BI) resmi menerapkan sistem pembayaran digital QRIS di Pelabuhan Liem Hie Djung, Nunukan, Selasa (19/05/2026).
Penerapan ini ditandai dengan soft launching dan simulasi pembayaran tiket speedboat menggunakan QRIS.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah pejabat melakukan uji coba pemindaian barcode dan transaksi pembayaran sebesar Rp1 menggunakan QRIS.
Hadir dalam kegiatan itu Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (LLASDP) pada Bidang Pelayaran di Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Utara Massahara, S.T., Plh Sekretaris Daerah Nunukan Muhammad Amin, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara Reza Hidayat, serta agen kapal dan penjual tiket yang telah menyediakan layanan pembayaran digital.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Reza Hidayat, mengatakan penerapan QRIS di pelabuhan menjadi langkah penting dalam mendukung digitalisasi layanan transportasi di wilayah perbatasan.
Menurutnya, penggunaan speedboat di Kalimantan Utara cukup tinggi sehingga dibutuhkan sistem pembayaran yang lebih praktis, aman, dan mudah digunakan masyarakat.
“Data BPS mencatat ada sekitar satu juta perjalanan menggunakan speedboat, sementara jumlah penduduk Kalimantan Utara sekitar 700 ribu jiwa, ini menunjukkan transportasi speedboat sangat penting bagi masyarakat, sehingga perlu disiapkan alternatif pembayaran seperti QRIS,” ujar Reza.
Ia menjelaskan, pada tahap awal terdapat lima agen penjualan tiket yang telah menggunakan QRIS dengan dukungan tiga bank, yakni Bank Mandiri, BRI, dan BPD Kaltimtara.
Reza menyebut Kalimantan Utara menjadi provinsi pertama di Pulau Kalimantan yang mulai menerapkan QRIS di pelabuhan.
“Kami berharap digitalisasi ini membuat transaksi menjadi lebih cepat, murah, aman, dan handal. Ini juga menjadi pilihan pembayaran yang memudahkan masyarakat,” katanya.
Selain mempermudah transaksi, penerapan QRIS juga dinilai membantu masyarakat mengurangi penggunaan uang tunai saat bepergian.
“Kalau bepergian bersama keluarga atau rombongan, biasanya masyarakat membawa uang tunai dalam jumlah besar, dengan QRIS, hal itu bisa dikurangi,” jelasnya.
Menurut Reza, manfaat QRIS juga dirasakan oleh agen tiket dan pelaku usaha karena transaksi menjadi lebih praktis dan pencatatan keuangan lebih rapi.
“Bagi agen tiket tidak perlu lagi repot menyediakan uang kembalian, sementara pencatatan keuangan usaha juga menjadi lebih baik,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui penerapan pembayaran digital masih membutuhkan proses adaptasi di masyarakat. Karena itu, Bank Indonesia akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi terkait penggunaan QRIS.
“Mungkin di awal masih ada kendala atau keluhan, tetapi itu bagian dari proses penyesuaian. Yang penting kita mulai dulu dan terus melakukan perbaikan,” ucapnya.
Reza juga mengingatkan masyarakat untuk tetap berhati-hati terhadap potensi penipuan digital, seperti penggunaan QRIS palsu.
“Pastikan nama penerima sesuai dengan nama toko atau agen sebelum melakukan pembayaran,” tegasnya.
Bank Indonesia bersama pemerintah daerah, OJK, kepolisian, dan pihak terkait lainnya akan terus berkoordinasi untuk mendukung keamanan transaksi digital di tengah masyarakat. (*)






