TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Utara melaporkan penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026 sebagai dampak meningkatnya tekanan inflasi di perdesaan.
Kepala BPS Kaltara, Dr. Mustaqim SST., SE., M.Si., menyebutkan NTP Kaltara tercatat sebesar 116,68 atau turun 0,34 persen dibandingkan Desember 2025.
“Penurunan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga kebutuhan konsumsi dan biaya produksi lebih cepat dibandingkan harga hasil pertanian,” kata Mustaqim.
Ia menjelaskan, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mengalami kenaikan 0,11 persen, sementara Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal juga meningkat. Kondisi ini mempersempit ruang daya beli petani.
Secara subsektor, tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan paling signifikan, sedangkan peternakan dan perikanan masih bertahan positif di tengah fluktuasi harga.
BPS menilai pengendalian inflasi perdesaan menjadi kunci penting dalam menjaga kesejahteraan petani. Stabilitas harga pangan dan sarana produksi diharapkan dapat menahan tekanan inflasi pada bulan-bulan berikutnya.(*)






