TARAKAN – Suasana sore di kawasan Satradar 204 Tarakan, Selasa (17/02/2026), dipenuhi harap. Sejumlah petugas Kementerian Agama, unsur Forkopimda, BMKG, serta perwakilan organisasi keagamaan berkumpul untuk melaksanakan rukyatul hilal sebagai bagian dari penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah.
Namun hingga proses pengamatan berakhir, hilal tidak terlihat di langit Tarakan.
Plt Kepala Bidang Bimas Islam Kementerian Agama Kalimantan Utara, Iramsyah Noor, menjelaskan bahwa pengamatan dilakukan sesuai prosedur dan melibatkan dua saksi resmi.
“Pengamatan sudah kami laksanakan bersama tim dan disaksikan dua saksi. Namun hilal tidak terlihat hari ini. Hasil ini akan dilaporkan ke pusat sebagai bahan sidang isbat,” ujarnya kepada awak media.
Ia menegaskan, keputusan resmi penetapan 1 Ramadan tetap menunggu hasil sidang isbat Kementerian Agama RI yang digelar pada malam hari. Laporan dari berbagai daerah di Indonesia akan menjadi bahan pertimbangan sebelum pemerintah mengumumkan secara nasional.
Iramsyah juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kebersamaan jika terjadi perbedaan dalam memulai ibadah puasa.
“Perbedaan metode, baik rukyat maupun hisab, adalah bagian dari dinamika umat. Yang terpenting adalah menjaga persatuan dan saling menghormati,” katanya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wali Kota Tarakan, Khairul, yang menyampaikan bahwa momen rukyatul hilal merupakan wujud sinergi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat dalam menyambut bulan suci.
“Sebagian masyarakat mungkin telah menetapkan lebih dulu berdasarkan perhitungan. Namun kita tetap menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat. Apa pun hasilnya, mari kita jaga suasana tetap harmonis,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam kalender Hijriah, satu bulan bisa berjumlah 29 atau 30 hari. Jika hilal belum memenuhi kriteria visibilitas, maka bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari.
Berdasarkan pemaparan BMKG dalam kegiatan tersebut, posisi hilal saat pengamatan masih berada di bawah kriteria kesepakatan regional ASEAN, yakni minimal tinggi 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Posisi hilal yang masih minus atau di bawah nol derajat membuatnya belum memenuhi standar untuk dapat terlihat.
Dengan hasil tersebut, masyarakat Tarakan kini menanti pengumuman resmi dari pemerintah pusat terkait awal Ramadan 1447 H. Pemerintah daerah pun berharap bulan suci dapat disambut dengan penuh ketenangan, persaudaraan, dan semangat kebersamaan. (*)





