NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten Nunukan tengah menyiapkan terobosan baru dalam pengembangan pariwisata dengan mengusung konsep “Rumah Adat Nusantara” di kawasan hutan mangrove yang berada di pusat kota.
Kawasan yang selama ini belum tergarap optimal itu direncanakan menjadi destinasi ikonik yang memadukan keindahan alam dengan kekayaan budaya Indonesia.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Nunukan, H. Sura’i, S.Sos., M.A.P., menuturkan bahwa kawasan mangrove seluas kurang lebih 9 hektare di belakang Gedung Gadis 1 RT 06 Kelurahan Nunukan Selatan menjadi fokus utama pengembangan.
Meski saat ini sudah terdapat jembatan sebagai akses pengunjung, namun penataannya dinilai masih terbatas dan membutuhkan sentuhan konsep yang lebih kuat.
“Kami memiliki gagasan untuk membangun miniatur rumah adat dari 28 suku yang terdaftar di Kesbangpol, sehingga kawasan tersebut bisa menjadi ‘Rumah Adat Nusantara’,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep tersebut tidak hanya menghadirkan daya tarik wisata baru, tetapi juga mengandung nilai edukasi tentang keberagaman budaya Indonesia.
Selain itu, pengembangan kawasan ini diharapkan mampu mendorong keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meningkatkan kebersihan lingkungan, serta menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Dengan lokasinya yang berada di pusat kota, kawasan mangrove ini dinilai sangat strategis dan berpotensi menjadi ruang publik sekaligus destinasi wisata unggulan yang mudah diakses wisatawan.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa rencana pengembangan kawasan mangrove tersebut telah disampaikan secara informal kepada Kementerian Pariwisata.
Pemerintah daerah juga tengah menyiapkan proposal resmi agar program ini dapat segera direalisasikan.
“Harapannya tahun ini bisa terealisasi, sehingga kawasan wisata di perbatasan dapat berkembang dan benar-benar menampilkan wajah Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya.
Dengan konsep yang menggabungkan wisata alam dan budaya, Nunukan kini bersiap menghadirkan destinasi baru yang tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga menjadi simbol keberagaman dan identitas bangsa di wilayah perbatasan. (*)





