NUNUKAN — Lima motif dasar menjadi titik awal peserta dalam menuangkan kreativitas pada Lomba Desain Batik Lulantatibu yang digelar di GOR Dwi Kora Nunukan, Minggu (4/10/2026).
Dengan acuan motif yang sama, peserta ditantang menghasilkan desain berbeda sesuai ide dan kemampuan masing-masing.
Lomba tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan dan diikuti peserta kategori pelajar dan umum.
Panitia memberikan referensi lima motif dasar Lulantatibu, sementara peserta diberi ruang untuk mengembangkan komposisi, bentuk hingga warna dalam desainnya.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Nunukan, Juned, mengatakan lima motif tersebut menjadi unsur utama yang harus dipahami peserta sebelum dikembangkan menjadi rancangan baru.
“Lulantatibu ini merupakan motif khas Kabupaten Nunukan. Ada lima motif dasar yang menjadi acuannya, dari lima motif itu bisa dikembangkan lagi menjadi berbagai desain yang menarik,” kata Juned.
Menurutnya, kreativitas peserta terlihat dari cara mereka menggabungkan dan menata motif yang telah ditentukan, meskipun berangkat dari acuan yang sama, hasil akhirnya dapat memiliki bentuk dan karakter yang berbeda.
Peserta juga memiliki kebebasan dalam menentukan tampilan desain, baik menggunakan warna maupun membuat rancangan secara monokrom, kertas dan pensil disediakan panitia, sementara ide dan pengembangan desain sepenuhnya menjadi bagian dari kreativitas peserta.
Salah satu juri, Reimita, mengatakan peserta diberikan waktu maksimal dua jam untuk menyelesaikan rancangan, penilaian terutama melihat kreativitas dalam menyusun serta menempatkan motif agar dapat diterapkan menjadi desain kain batik.
“Yang dinilai terutama kreativitasnya, bagaimana mereka menyusun atau menempatkan motif untuk menjadi desain kain batik,” ujar Reimita.
Selain rancangan motif, penggunaan pakaian bermotif Lulantatibu juga menjadi salah satu pertimbangan dalam penilaian, sementara untuk pewarnaan, peserta tetap diberikan ruang untuk memilih dan mengembangkan warna sesuai desain yang dibuat.
Bagi Reimita yang juga merupakan pengrajin batik, lomba tersebut tidak hanya menjadi ajang mencari pemenang, kegiatan ini juga membuka kesempatan bagi pengrajin untuk melihat potensi baru di bidang desain.
“Kadang ada bakat-bakat yang terpendam, kita baru tahu ternyata ada yang bagus menggambar, ada yang bagus menyusun desain,” katanya.

Menurut Reimita, kemampuan membuat dan menyusun desain sangat dibutuhkan dalam pengembangan batik lokal, pengrajin terkadang harus mengembangkan sendiri rancangan ketika mendapatkan pesanan, sehingga talenta baru di bidang desain dapat menjadi bagian dari pengembangan industri batik Nunukan.
Ia berharap peserta yang memiliki kemampuan desain dapat terus dikembangkan dan tidak berhenti setelah perlombaan, ke depan, talenta tersebut diharapkan dapat diarahkan untuk berkolaborasi dengan para pengrajin batik lokal.
Salah satu peserta kategori umum, Syamsul Alam, mengaku mengikuti lomba karena memiliki ketertarikan pada seni melukis sejak kecil, baginya, lomba tersebut menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru sekaligus menuangkan kreativitas.
“Saya memang suka seni melukis sejak kecil, jadi saya ikut lomba ini untuk mencari pengalaman baru sekaligus menyumbangkan kreasi dalam desain Batik Lulantatibu,” kata Syamsul.
Ia juga ingin keikutsertaannya menjadi bagian dari kontribusi untuk memeriahkan HUT ke-27 Kabupaten Nunukan.
Pada akhirnya, tantangan dalam lomba ini bukan sekadar siapa yang paling cepat menggambar atau paling banyak menggunakan warna, lima motif dasar yang sama justru menjadi ruang bagi peserta untuk menunjukkan cara berpikir, selera dan kreativitas masing-masing.
Dari tangan peserta, motif yang sama dapat tampil dengan karakter berbeda, di situlah Lulantatibu terus menemukan ruang untuk berkembang, tetap berpijak pada motif khas Nunukan, tetapi terbuka terhadap gagasan-gagasan baru dari generasi yang ikut merawat dan mengembangkannya. (*)





