KRAYAN – Dari kolam-kolam ikan di Desa Buduk Tumu, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, sebuah upaya kecil menuju kemandirian mulai dibangun.
Bukan hanya bagaimana menghasilkan ikan, tetapi juga bagaimana memenuhi kebutuhan pakan tanpa terus bergantung pada pasokan dari luar wilayah.
Upaya itu kini dilakukan Kelompok Pembudidaya Ikan Air Tawar “Mas Muda” dengan mengembangkan maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai salah satu bahan alternatif pakan ikan.
Bagi kelompok yang terbentuk sejak 2023 tersebut, kebutuhan pakan selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar, dalam sebulan, sekitar 20 karung pakan pabrikan dibutuhkan untuk mendukung kegiatan budidaya ikan.
Setiap karung berisi 20 kilogram dengan harga sekitar Rp450 ribu hingga Rp500 ribu, pakan tersebut didatangkan dari Malaysia.
Dengan kebutuhan mencapai sekitar 400 kilogram per bulan, pengeluaran kelompok untuk pakan dapat mencapai sekitar Rp9 juta hingga Rp10 juta setiap bulan.
“Pakan pabrikan sangat berpengaruh karena harganya semakin mahal,” ujar Ketua Kelompok Mas Muda, Novri, Senin (7/9/2026).
Kondisi tersebut membuat kelompok mulai memikirkan cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan.
Harapan itu mulai terbuka setelah Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) memberikan pendampingan melalui pelatihan pembuatan pakan ikan berbahan baku lokal pada 4–5 Juli 2026.
Dalam pelatihan tersebut, anggota Mas Muda diperkenalkan dengan maggot BSF dan Lemna atau duckweed sebagai bahan alternatif pakan ikan.
Tidak hanya mendapatkan pengetahuan, kelompok juga memperoleh dukungan berupa bibit maggot dan Lemna serta kandang jaring untuk indukan lalat BSF.
Sekitar dua bulan setelah pelatihan, bibit maggot yang diberikan mulai menunjukkan perkembangan.

Novri mengatakan, kelompok kini mulai melihat terbentuknya siklus budidaya BSF, dari indukan lalat, telur berkembang menjadi anakan maggot yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan.
“Sudah ada perkembangan, sudah ada anakan, ini saya bantu tambah lagi untuk indukan supaya bisa dikembangkan lagi,” kata Novri.
Menurutnya, budidaya maggot relatif mudah dilakukan, maggot dapat berkembang dalam waktu sekitar dua minggu, sementara lalat BSF yang telah dewasa digunakan sebagai indukan untuk menghasilkan telur dan generasi berikutnya.
Dari proses pengembangan tersebut, jumlah maggot dapat berkembang hingga ribuan bahkan puluhan ribu, bergantung pada keberhasilan pemeliharaan.
Saat ini, Novri memperkirakan kelompok telah memiliki sekitar 1.000 indukan lalat BSF yang terus dikembangkan.
“Tidak susah juga merawatnya, agak gampang, perkembangannya sudah bagus,” ujarnya.
Namun, kelompok belum sepenuhnya menggunakan maggot sebagai pengganti pakan pabrikan, populasi maggot masih dalam tahap pengembangan sehingga kebutuhan pakan ikan masih dipenuhi dengan pakan yang didatangkan dari Malaysia.
Bagi Mas Muda, kondisi tersebut bukan menjadi hambatan, melainkan bagian dari proses menuju kemandirian.
Kelompok Mas Muda saat ini membudidayakan ikan mas, nila, dan lele jumbo. Sekali panen, produksi ikan sekitar 50 kilogram.
Hasil panen dipasarkan dari rumah ke rumah serta melalui kios pedagang daging ayam dan ikan.
Dengan biaya pakan yang cukup besar, kemampuan memproduksi bahan pakan sendiri dinilai dapat membantu kelompok mengurangi biaya produksi secara bertahap.
Novri menyambut positif pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan tersebut, terutama mengenai cara mengembangkan maggot secara mandiri.
“Kami bersyukur karena dari pelatihan ini kami dapat memahami bagaimana membudidayakan maggot secara bertahap,” katanya.
Ia menilai maggot dan Lemna memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bahan pakan alternatif.
“Sangat luar biasa dari kedua bahan ini dan itu bisa menekan harga pakan pabrikan,” ujar Novri.
Karena itu, kelompok berharap pendampingan tidak berhenti pada pelatihan awal. Ke depan, mereka ingin mengembangkan maggot hingga dapat diolah menjadi pelet ikan.
“Ini yang sangat dibutuhkan sekali bagi kelompok sekarang ini untuk membuat pakan mandiri,” ungkapnya.
Novri berharap kegiatan bersama TNKM dapat terus berlanjut, khususnya dalam pengembangan pakan berbahan dasar maggot.
“Supaya kegiatan ini ke depan ada kelanjutannya, yaitu pembuatan pelet dari bahan maggot,” harapnya.
Pelatihan pembuatan pakan tersebut menghadirkan Prof. Ir. Ramadhani Eka Putra, S.Si., M.Si., Ph.D., Guru Besar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagai narasumber.
Peserta mendapatkan materi mengenai kebutuhan protein, lemak, karbohidrat, dan vitamin bagi ikan air tawar, mereka juga diajak memetakan potensi bahan baku yang tersedia di Desa Buduk Tumu.
Pada hari kedua, peserta mempraktikkan langsung proses menimbang bahan, mencampur adonan, mencetak pakan, mengeringkan hingga menyimpan pakan agar kualitasnya tetap terjaga.
Ramadhani mengatakan maggot BSF dan Lemna memiliki potensi untuk dikembangkan masyarakat sebagai sumber bahan pakan.
“BSF dan Lemna adalah sumber protein yang sangat mungkin dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat, bahkan dengan memanfaatkan limbah organik dan lahan basah yang ada di sekitar desa. Selain menekan biaya produksi pakan, budidaya kedua bahan ini juga membantu pengelolaan limbah secara berkelanjutan,” ujar Ramadhani.
Kepala Balai TN Kayan Mentarang, Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan pendampingan tersebut merupakan bentuk komitmen Balai dalam mendukung masyarakat di kawasan penyangga taman nasional.
“Pelatihan ini merupakan salah satu bentuk komitmen kami mendampingi masyarakat di kawasan penyangga, khususnya kelompok binaan seperti Mas Muda, agar dapat mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Seno.
Ia berharap kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, dapat terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.
Bagi Kelompok Mas Muda, perjalanan menuju kemandirian pakan masih Panjang, maggot yang kini dikembangkan belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pakan ikan.
Namun, dari bibit yang diberikan, perlahan mulai terbentuk siklus budidaya sendiri,dari lalat BSF sebagai indukan, telur, anakan maggot, hingga bahan yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan.
Bagi Novri, perkembangan tersebut menjadi alasan untuk terus melanjutkan usaha.
“Harapan kami ke depannya untuk kelompok Mas Muda, jangan pernah menyerah dalam budidaya. Terus maju sampai menjadi sukses,” tuturnya.
Di Desa Buduk Tumu, kolam ikan dan kandang maggot kini menjadi bagian dari satu cerita yang sama, ketika pakan pabrikan masih harus didatangkan dari Malaysia dengan harga ratusan ribu rupiah setiap karung, Mas Muda memilih mulai menumbuhkan alternatif dari lingkungan sendiri. (*)





