TANA TIDUNG – Komitmen membangun budaya baca di daerah perbatasan membawa Bunda Literasi Kabupaten Tana Tidung, Vamelia Ibrahim, ke panggung nasional. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi mengundang Vamelia untuk menjadi narasumber dalam forum Gelar Wicara Penguatan Literasi, Senin (25/05/2026).
Forum bertajuk “Belajar dari Sesama: Praktik Baik Penguatan Literasi dari Berbagai Provinsi di Indonesia untuk Memperkuat Ekosistem Pendidikan di Nusa Tenggara Timur” itu menjadi wadah berbagi pengalaman antar daerah dalam memperkuat budaya literasi dan pendidikan.
Dalam kegiatan tersebut, Vamelia menjadi satu-satunya perwakilan dari Kalimantan Utara yang dipercaya membagikan pengalaman pengembangan literasi berbasis masyarakat di Kabupaten Tana Tidung.
Berdasarkan susunan acara, forum ini menghadirkan berbagai tokoh nasional di bidang literasi, mulai dari akademisi, pegiat literasi, pemerintah daerah hingga komunitas pendidikan dari berbagai provinsi di Indonesia.
Vamelia mengatakan, Pemerintah NTT tertarik terhadap model penguatan literasi yang diterapkan di Kabupaten Tana Tidung, khususnya dalam pengembangan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan menjaga keberlanjutan program di tengah keterbatasan fiskal daerah.
“Hari ini saya mendapat undangan dari Pemerintah Nusa Tenggara Timur untuk membagikan praktik-praktik baik yang saya lakukan di Kabupaten Tana Tidung, seperti pendirian taman bacaan masyarakat dan bagaimana penganggaran agar gerakan literasi tetap berjalan,” ujar Vamelia, Ahad (24/05/2026).

Dari Daerah Kecil Jadi Inspirasi Nasional
Undangan tersebut menjadi bukti bahwa gerakan literasi dari daerah kecil pun mampu memberi dampak besar. Kabupaten Tana Tidung yang berada di wilayah perbatasan kini justru mulai diperhitungkan sebagai salah satu contoh praktik baik pengembangan literasi di Indonesia.
Selama beberapa tahun terakhir, Vamelia aktif membangun ekosistem membaca masyarakat melalui pendampingan komunitas dan pendirian 32 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang tersebar di berbagai wilayah Tana Tidung.
Program tersebut dinilai berhasil membuka akses bacaan masyarakat sekaligus membangun ruang belajar alternatif bagi anak-anak dan warga di daerah yang memiliki keterbatasan akses pendidikan informal.
Tak hanya membangun fasilitas baca, Vamelia juga dikenal aktif memperjuangkan keberlanjutan gerakan literasi melalui dukungan regulasi.
Kaltara Siapkan Perda Literasi Pertama
Saat ini, Vamelia yang juga tergabung dalam Pansus IV DPRD Kalimantan Utara tengah terlibat dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pengembangan Perbukuan dan Budaya Literasi.
Regulasi tersebut diproyeksikan menjadi perda pertama di Indonesia yang secara khusus mengatur pengembangan budaya literasi dan perbukuan.
“Selama ini penggiat literasi bergerak tanpa payung hukum yang kuat. Karena itu saya sangat mendukung Ranperda Pengembangan Perbukuan dan Budaya Literasi ini agar menjadi dasar penguatan gerakan literasi di Kalimantan Utara,” katanya.
Ranperda itu nantinya akan mengatur berbagai aspek penting, mulai dari pendanaan gerakan literasi, distribusi buku ke daerah, penguatan TBM, hingga penghargaan bagi pegiat literasi dan penulis lokal.
Vamelia berharap apa yang dilakukan di Kabupaten Tana Tidung dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus membangun budaya membaca sebagai fondasi pendidikan masyarakat. (*)






