JAKARTA – Buah Elai menjadi salah satu daya tarik pengunjung di stan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) pada pameran memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta.
Berlangsung selama empat hari, 20–23 Agustus 2026, pameran tersebut menjadi kesempatan bagi Balai TNKM untuk memperkenalkan berbagai kekayaan alam dan budaya yang ada di kawasan Kayan Mentarang kepada masyarakat luas.
Salah satunya melalui buah Elai (Durio kutejensis), buah khas Kalimantan yang bentuknya sekilas menyerupai durian, namun, Elai memiliki ciri khas tersendiri, terutama daging buahnya yang berwarna kuning-oranye serta rasa dan aroma yang berbeda dari durian pada umumnya.
Di stan Balai TNKM, pengunjung tidak hanya dapat melihat Elai, tetapi juga mencicipinya secara langsung. Cara sederhana ini justru menarik perhatian, terutama bagi pengunjung yang baru pertama kali melihat dan menikmati buah tersebut.
Senyum dan antusiasme terlihat dari sejumlah pengunjung saat mencicipi Elai, salah seorang pengunjung bahkan tampak memperlihatkan potongan buah tersebut kepada kamera dengan wajah gembira, pengunjung lainnya terlihat mengamati buah Elai yang telah dibelah sebelum mencicipinya.
Suasana berbeda juga terlihat ketika beberapa pengunjung duduk bersama di dalam stan sambil menikmati potongan Elai. Di sekitar mereka terpampang berbagai informasi mengenai Taman Nasional Kayan Mentarang, mulai dari keanekaragaman hayati, bentang alam, hingga kehidupan dan budaya masyarakat di sekitar kawasan.
Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan Elai merupakan salah satu kekayaan keanekaragaman hayati sekaligus hasil hutan bukan kayu yang tumbuh di sekitar kawasan TNKM.
“Buah Elai merupakan salah satu kekayaan keanekaragaman hayati dan hasil hutan bukan kayu yang hidup subur di sekitar kawasan TNKM. Melalui kehadiran buah eksotis ini di pameran, kami ingin mengenalkan bahwa kekayaan hayati Kayan Mentarang tidak hanya soal panorama hutan, tetapi juga potensi pangan lokal luar biasa yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat adat setempat,” ujarnya, Minggu (23/08/2026).
Bagi pengunjung yang baru pertama kali mencicipinya, Elai memberikan pengalaman tersendiri, salah seorang pengunjung mengaku awalnya penasaran karena belum pernah melihat buah tersebut secara langsung.
“Ini pertama kalinya saya melihat dan mencicipi buah Elai secara langsung. Warnanya oranye dan rasanya unik, gurih dan manis, tanpa aroma menyengat seperti durian. Awalnya saya penasaran karena belum pernah melihat buah ini, ternyata rasanya enak. Pengalaman ini membuat kunjungan saya ke stan Balai TNKM semakin berkesan,” kata Yuni.
Kehadiran Elai di stan Balai TNKM tidak sekadar memperkenalkan buah khas Kalimantan, lebih dari itu, Elai menjadi media sederhana untuk menghubungkan pengunjung dengan cerita tentang hutan dan keanekaragaman hayati Kayan Mentarang.
Melalui buah tersebut, pengunjung dapat melihat bahwa kekayaan kawasan konservasi tidak hanya berupa hutan, sungai, pegunungan, dan satwa liar, tetapi juga berbagai tumbuhan yang memiliki nilai pangan dan budaya bagi masyarakat.
Pesan konservasi pun menjadi lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Elai menjadi contoh bahwa menjaga hutan juga berarti menjaga sumber pangan, tumbuhan, serta pengetahuan masyarakat yang telah hidup berdampingan dengan alam.
Melalui pameran HKAN 2026, Balai TNKM berharap semakin banyak masyarakat mengenal Kayan Mentarang sekaligus memahami pentingnya menjaga kekayaan alamnya agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. (*)





