TARAKAN – Pendopo Pakuwaja yang kini menjadi pusat kegiatan warga Jawa di Kota Tarakan menyimpan sejarah panjang perjuangan dan kebersamaan. Hal itu diungkapkan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara sekaligus Penasehat Paguyuban Keluarga Warga Jawa (Pakuwaja) Kota Tarakan, Supa’ad Hadianto, saat menghadiri silaturahmi Ikatan Keluarga Jawa Blora (Jawara), Minggu (7/6/2026).
Di hadapan warga perantauan asal Blora, Supa’ad mengisahkan bagaimana Pakuwaja pernah berada dalam kondisi kurang aktif sebelum akhirnya bangkit dan berkembang menjadi organisasi yang menaungi berbagai paguyuban warga Jawa di Tarakan.
Menurutnya, saat dipercaya menjadi Ketua Pakuwaja periode 2006–2010, organisasi tersebut belum memiliki kegiatan yang rutin maupun pusat aktivitas yang tetap.
“Dulu Pakuwaja ada, tetapi belum banyak kegiatan. Karena itu kami mencoba membangun kembali semangat kebersamaan warga Jawa,” ujarnya.
Supa’ad mengatakan, salah satu impian besar pengurus saat itu adalah memiliki sekretariat permanen yang dapat digunakan sebagai tempat berkumpul seluruh warga Jawa. Namun keterbatasan fasilitas dan lahan menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Dengan dukungan para tokoh masyarakat dan semangat gotong royong warga, impian tersebut perlahan mulai terwujud. Sebagian lahan diperoleh dari wakaf almarhum Marjito, sementara sebagian lainnya dibeli untuk memperluas area yang kini menjadi lokasi pendopo.
“Waktu itu kami berpikir, kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi warga Jawa punya tempat berkumpul sendiri,” katanya.
Perjuangan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Selain persoalan pembiayaan, lokasi yang dipilih juga berada di kawasan yang memerlukan penyelesaian administrasi dan koordinasi dengan berbagai pihak. Meski demikian, semangat para pengurus dan warga tidak pernah surut.
Dari sebuah bangunan sederhana berbahan kayu, sekretariat Pakuwaja terus berkembang hingga menjadi pendopo yang saat ini sering digunakan untuk kegiatan budaya, sosial, keagamaan, hingga pertemuan berbagai paguyuban Jawa.
Bagi Supa’ad, keberadaan pendopo tersebut bukan hanya aset organisasi, tetapi simbol kebersamaan warga perantauan yang dibangun melalui kerja keras dan kekompakan.
Karena itu, ia mengajak warga Jawara dan seluruh paguyuban di bawah naungan Pakuwaja untuk terus merawat semangat persatuan yang telah diwariskan para pendahulu.
“Jangan pernah bosan bersilaturahmi. Dari pertemuan-pertemuan seperti inilah organisasi bisa tetap hidup dan berkembang,” tuturnya.
Ia berharap generasi muda warga Jawa di Tarakan dapat melanjutkan semangat gotong royong yang telah dibangun selama bertahun-tahun, sehingga Pakuwaja tetap menjadi rumah besar bagi seluruh warga Jawa di Kota Tarakan.(*)






