TARAKAN – Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, harga sapi kurban di Kota Tarakan masih berada pada kisaran yang terjangkau meski permintaan mulai meningkat. Kondisi ini disampaikan langsung oleh pelaku usaha penampungan sapi di wilayah Tarakan Barat, Ahad (19/04/2026).
Jefri Yunus, pengelola peternakan dan penampungan sapi di Jalan Bhayangkara, Kecamatan Tarakan Barat, mengatakan bahwa harga sapi saat ini cukup bervariasi tergantung ukuran dan jenisnya.
“Kalau harga sekarang macam-macam, mulai dari sekitar Rp20 juta sampai Rp60 juta bahkan ada yang sampai Rp70 juta. Tergantung besar kecilnya sapi dan jenisnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini jumlah sapi yang telah masuk ke lokasi penampungan miliknya mencapai 148 ekor. Jumlah tersebut merupakan pengiriman tahap awal, dan akan terus bertambah dalam waktu dekat.
“Ini baru tahap pertama, nanti akan datang lagi sekitar 100 ekor lebih menjelang Idul Adha,” katanya.
Menurut Jefri, pengiriman sapi memang dilakukan secara bertahap untuk menyesuaikan kebutuhan pasar serta kesiapan penampungan.
Di penampungan tersebut, tersedia beberapa jenis sapi yang menjadi pilihan masyarakat, di antaranya sapi Bali, Limousin, dan Peranakan Ongole (PO). Ketiga jenis ini memiliki karakteristik berbeda, baik dari segi ukuran maupun harga.
“Jenisnya ada Bali, Limousin, dan PO. Pembeli biasanya menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan,” jelasnya.
Ia menambahkan, tren pembelian biasanya akan meningkat mendekati hari raya kurban. Meski demikian, hingga saat ini kondisi penjualan masih tergolong normal.
“Antusias masyarakat biasanya naik menjelang hari H. Sekarang sudah mulai ada pembeli, tapi belum terlalu ramai,” ungkapnya.
Jefri juga menilai bahwa pengawasan kesehatan hewan yang dilakukan oleh petugas karantina sangat membantu para pedagang. Menurutnya, setiap sapi yang dikirim telah melalui proses pemeriksaan di daerah asal.
“Kalau dari sana sudah harus melalui karantina dan pemeriksaan. Kalau tidak lengkap, tidak bisa diberangkatkan,” tegasnya.
Selain itu, pemeriksaan ulang di Tarakan juga memberikan jaminan tambahan terhadap kesehatan hewan yang akan dijual ke masyarakat.
“Dengan adanya pemeriksaan dari karantina di sini, tentu sangat membantu. Jadi kondisi sapi lebih terjamin,” tambahnya.
Untuk menjaga kualitas, sapi yang mengalami cacat atau sakit tidak akan dijual sebagai hewan kurban. Biasanya hewan tersebut langsung dipotong dan tidak dipasarkan.
“Kalau ada yang luka atau sakit, langsung dipotong. Tidak dijual untuk kurban,” tutupnya.
Dengan harga yang masih relatif terkendali dan stok yang terus bertambah, masyarakat diharapkan dapat lebih leluasa dalam memilih hewan kurban sesuai kebutuhan menjelang Idul Adha 2026.(*)





