KRAYAN BARAT– Upaya pengembangan wisata alam berbasis masyarakat di Desa Pa’ Kidang, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, terus diperkuat.
Pasca mengikuti pelatihan pemanduan wisata alam dan pengelolaan homestay yang difasilitasi Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) pada Juli 2026, Kelompok Wisata Alam Pa’ Kidang Makmur mulai memperkuat kesiapan dalam mengelola destinasi Buduk Udan.
Pelatihan yang berlangsung pada 15–16 Juli 2026 tersebut menjadi bagian dari pendampingan Balai TNKM untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di kawasan penyangga dalam mengembangkan wisata alam secara profesional sekaligus tetap memperhatikan prinsip konservasi.
Buduk Udan merupakan salah satu potensi wisata alam di Desa Pa’ Kidang yang menawarkan panorama pegunungan, lautan awan, matahari terbit dan terbenam, serta pemandangan desa-desa di sekitarnya.
Kawasan ini juga menjadi salah satu akses menuju kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang dan memiliki jalur pemantauan bunga Rafflesia pricei yang dibina oleh Balai TNKM.
Ketua Kelompok Tani Pa’ Kidang Makmur, Doni, mengatakan sebelum mengikuti pelatihan, kelompok telah mulai menerima kunjungan, meskipun jumlahnya masih terbatas.
Dalam satu bulan, rata-rata terdapat sekitar 30 pengunjung dan sebagian besar berasal dari masyarakat lokal.
“Biasanya satu kali, kadang dua kali dalam satu bulan kunjungan. Kalau dihitung, sekitar 30 orang dalam satu bulan,” ujar Doni, Jumat (02/10/2026).
Menurut Doni, salah satu tantangan yang masih dihadapi kelompok adalah kesiapan fasilitas, khususnya homestay, saat pelatihan berlangsung, kelompok belum memiliki homestay yang siap untuk menerima wisatawan secara optimal.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi kelompok untuk mengikuti pelatihan, selain meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, kelompok ingin memahami bagaimana memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pengunjung.
“Tujuannya untuk meningkatkan SDM dan memenuhi unsur 4F. Dari seluruh materi, yang paling bermanfaat bagi kami adalah pelayanan prima,” kata Doni.
Pasca pelatihan, Doni menyebut kelompok semakin memahami bahwa pengelolaan wisata tidak hanya mengandalkan keindahan alam.
Kemampuan memandu, berkomunikasi dengan pengunjung, menerima tamu dan mempersiapkan kebutuhan wisatawan juga menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman wisata.
“Kelompok akan lebih semangat lagi dalam mengelola wisata Buduk Udan dan meningkatkan pengelolaannya agar lebih baik. Kami juga belajar cara memandu kunjungan dan cara menerima tamu di homestay,” ujarnya.

Pelatihan yang diberikan Balai TNKM menghadirkan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalimantan Utara, Ivan Kansil, sebagai narasumber. Ivan yang juga merupakan CEO/Founder PT Paguntaka Jaya Tours & Travel memberikan materi mengenai teknik pemanduan wisata alam dan pelayanan wisata.
Materi mencakup teknik komunikasi pemanduan, alur standar pelayanan mulai dari pembukaan hingga penutupan kegiatan, komunikasi nonverbal, serta cara mengatasi rasa gugup saat memandu wisatawan.
Peserta juga mendapatkan materi pengelolaan homestay, meliputi prinsip pelayanan prima dan teknik menangani keluhan tamu.
Menurut Ivan, kesiapan sumber daya manusia merupakan salah satu unsur penting dalam pengembangan destinasi wisata, karena pemandu tidak hanya bertugas menunjukkan lokasi kepada wisatawan, tetapi juga menyampaikan informasi dan membangun pengalaman selama perjalanan.
“Pemandu wisata harus mampu berkomunikasi dengan baik, memahami kebutuhan wisatawan dan memberikan pelayanan yang membuat pengunjung merasa nyaman selama berada di destinasi,” jelas Ivan.
Pada hari kedua, peserta mendapatkan materi mengenai strategi pemasaran homestay di era pariwisata 4.0, termasuk pemanfaatan media sosial dan peluang kerja sama dengan platform Online Travel Agent (OTA).
Pelatihan juga dilengkapi praktik simulasi public speaking, teknik navigasi lapangan di jalur pendakian Buduk Udan, serta penerapan prinsip konservasi dalam kegiatan wisata.
Praktik lapangan menjadi bagian penting karena jalur Buduk Udan memiliki nilai konservasi, termasuk sebagai salah satu lokasi pemantauan Rafflesia pricei binaan Balai TNKM.
Kepala SPTN Wilayah I Long Bawan Balai TN Kayan Mentarang, Hery Gunawan, S.Hut., mengatakan pengembangan wisata alam di kawasan penyangga perlu dibangun melalui peningkatan kapasitas masyarakat yang berada di sekitar kawasan.
Menurutnya, masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga sekaligus mengembangkan potensi wisata di wilayahnya, karena itu, kegiatan wisata perlu dikelola dengan memperhatikan daya dukung kawasan dan nilai-nilai konservasi.
“Pengembangan wisata alam tidak hanya berbicara mengenai potensi destinasi, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam mengelolanya, karena itu, peningkatan kapasitas kelompok menjadi bagian penting agar wisata dapat berkembang sekaligus tetap menjaga kelestarian alam,” ujar Hery, Jumat (02/10/2026).
Hery menambahkan, pendampingan kepada kelompok masyarakat di sekitar kawasan juga diharapkan dapat membangun pemahaman bahwa wisata alam dan konservasi dapat berjalan beriringan.
Sementara itu, Kepala Balai TN Kayan Mentarang, Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan pelatihan pemanduan dan pengelolaan homestay merupakan bagian dari komitmen Balai dalam mendampingi Kelompok Pa’ Kidang Makmur secara berkelanjutan.
“Pelatihan pemanduan dan pengelolaan homestay seperti ini penting agar Kelompok Pa’ Kidang Makmur semakin siap menyambut wisatawan secara profesional, sekaligus tetap menjaga kelestarian jalur Buduk Udan yang menjadi daya tarik utama desa ini,” ujar Seno, Jumat (02/10/2026).
Menurut Seno, pengembangan wisata berbasis masyarakat di kawasan penyangga tidak hanya diharapkan meningkatkan kunjungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat tanpa mengurangi nilai penting kawasan sebagai bagian dari ekosistem Taman Nasional Kayan Mentarang.
Balai TNKM sebelumnya juga telah memberikan sejumlah bentuk dukungan terhadap pengembangan wisata Buduk Udan, antara lain pelatihan kepemanduan, bantuan sarana berupa shelter dan papan informasi, serta pembentukan kelompok pemantau Rafflesia pricei di jalur Buduk Udan.
Bagi Kelompok Pa’ Kidang Makmur, pengembangan Buduk Udan ke depan tidak hanya diarahkan pada kunjungan ke lokasi, tetapi juga bagaimana wisatawan mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap selama berada di Desa Pa’ Kidang.
Doni menyebut panorama alam menjadi salah satu kekuatan utama yang dapat ditawarkan, mulai dari lautan awan, matahari terbit dan terbenam hingga pemandangan desa-desa di sekitar Buduk Udan.
Kelompok juga berencana mengembangkan unsur wisata lainnya, termasuk kuliner, oleh-oleh serta homestay atau penginapan.
“Ke depan kami ingin menerapkan unsur 4F, mulai dari kesenangan, kuliner, oleh-oleh sampai homestay atau penginapan,” tutur Doni.
Menurutnya, manfaat ekonomi dari wisata Buduk Udan memang belum banyak dirasakan masyarakat karena pengelolaannya masih dalam tahap pengembangan, namun, kelompok melihat potensi tersebut dapat tumbuh seiring dengan meningkatnya kunjungan dan kesiapan layanan wisata.
“Harapan kami kepada TNKM ke depan, wisata Buduk Udan lebih meningkat lagi, kami juga meminta dukungan dan kerja sama untuk mengembangkan wisata ini,” katanya.
Balai TNKM berharap penguatan kapasitas masyarakat tersebut dapat menjadi fondasi bagi pengelolaan wisata Buduk Udan yang semakin baik, kolaborasi antara masyarakat, pelaku pariwisata dan Balai TNKM akan terus didorong agar potensi wisata alam dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya menjaga kelestarian kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang.
Dengan demikian, pengembangan Buduk Udan tidak hanya menjadi upaya memperkenalkan keindahan alam Desa Pa’ Kidang, tetapi juga menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat di kawasan penyangga melalui kegiatan wisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. (*)





