SOLO – Riuh pengunjung, aroma masakan tradisional, dan alunan seni budaya berpadu di kawasan Pura Mangkunegaran. Mangkunegaran MakaN-MakaN 2026 kembali hadir, membawa pengalaman kuliner yang tak hanya menggugah selera, tetapi juga sarat makna sejarah.
Festival yang menjadi bagian dari peringatan Adeging Mangkunegaran ke-269 ini dibuka dengan cara yang tak biasa. Ratusan apem diarak oleh abdi dalem dalam prosesi kirab yang sakral, sebelum akhirnya dibagikan kepada pengunjung sebagai simbol berbagi berkah.

Bagi K.G.RAj. Ancillasura Marina Sudjiwo, atau yang akrab disapa Gusti Sura, tradisi ini bukan sekadar seremoni.
“Ini adalah cara kami menjaga budaya tetap hidup. Tradisi lama kami kemas agar bisa diterima generasi sekarang,” ujarnya.
Mengusung konsep Culture Future, festival ini menghadirkan lebih dari 100 tenant kuliner. Mulai dari sajian khas abdi dalem seperti jamu tradisional dan Gendar Pecel, hingga kuliner legendaris Solo seperti tengkleng, sate kere, dan serabi, semuanya hadir dalam satu ruang.
Menariknya, pengunjung tak hanya datang untuk makan. Mereka juga diajak “berdialog” dengan sejarah—melalui cerita di balik setiap hidangan, interaksi dengan pelaku UMKM, hingga pertunjukan seni yang digelar sepanjang acara.
Dukungan terhadap UMKM pun menjadi bagian penting dalam festival ini. Permata Bank menilai ajang ini mampu mendorong geliat ekonomi lokal sekaligus memperluas eksposur pelaku usaha.
Dari siang hingga malam, panggung hiburan terus hidup. Musik, tari, hingga pertunjukan kreatif mengiringi para pengunjung menikmati sajian demi sajian.
Mangkunegaran MakaN-MakaN 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar festival kuliner. Ia adalah ruang di mana tradisi diwariskan dengan cara yang hangat—melalui rasa, cerita, dan kebersamaan.(ar)





