TARAKAN — Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, berlangsung dengan cara yang berbeda. Puluhan warga bersama sejumlah komunitas membentangkan bendera Merah Putih raksasa di tengah jalan, Senin (17/8/2026).
Aksi tersebut berlangsung di Simpang Empat Tarakan Mall. Sekitar 30 orang terlibat langsung dalam pembentangan bendera berukuran 17 x 8 meter, bertepatan dengan peringatan detik-detik Proklamasi.
Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari Polwan, Komunitas OI, masyarakat adat, hingga komunitas ojek online. Mereka berdiri berjajar membawa dan membentangkan bendera raksasa sebagai simbol semangat persatuan.
Tak hanya peserta, masyarakat yang berada di sekitar lokasi juga ikut menyaksikan. Sejumlah pengendara yang sedang berhenti di lampu merah turut mengikuti prosesi dengan khidmat.
Rangkaian peringatan diawali dengan pembunyian sirene. Arus kendaraan kemudian dihentikan sementara untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat mengikuti pembacaan teks Proklamasi, penghormatan kepada Sang Merah Putih, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Kasat Lantas Polres Tarakan IPTU Ardi Wisnu Pradana mengatakan, penghentian lalu lintas dilakukan selama kurang lebih sepuluh menit.
“Mulai pukul 11.14 diawali dengan pembunyian sirene selama kurang lebih satu menit. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan teks Proklamasi, penghormatan kepada bendera Merah Putih, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya,” ujarnya.
Menurut Ardi, kegiatan tersebut melibatkan hampir 100 personel gabungan. Mereka berasal dari jajaran Polres Tarakan dan unsur Direktorat Polda yang berada di Kota Tarakan.
Pengamanan dan pengaturan lalu lintas juga didukung Pemadam Kebakaran Kota Tarakan, Satpol PP, serta berbagai unsur masyarakat dan organisasi kemasyarakatan.
Sementara itu, Beby, pengemudi ojek online yang ikut dalam kegiatan tersebut, menyebut kehadirannya sebagai bentuk nasionalisme.
“Ini dalam rangka jiwa nasionalisme saya. Saya mengikuti upacara bendera pada hari ini, 17 Agustus. Semoga Indonesia lebih maju dan lebih sejahtera lagi. Apalagi untuk para ojol lebih makmur lagi,” katanya.
Bendera yang menjadi pusat perhatian dalam kegiatan tersebut ternyata memiliki sejarah cukup panjang. Che Ageng dari Komunitas OI Tarakan mengatakan, bendera tersebut pertama kali dibuat pada 2015 dengan ukuran sekitar 5 x 3 meter.
Ukuran bendera kemudian terus diperbesar secara bertahap. Hingga saat ini, telah dilakukan enam kali penambahan, sehingga panjangnya mencapai 17 meter dan lebarnya 8 meter.
“Bendera ini sejak 2015 sudah ada. Awalnya panjangnya sekitar 5 meter dan lebarnya 3 meter. Ada enam kali penambahan sampai menjadi 17 x 8 meter,” kata Che Ageng.
Menariknya, pengerjaan bendera dilakukan oleh warga lokal. Penambahan ukuran dilakukan secara bertahap hingga akhirnya dapat digunakan dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini.
Che Ageng mengatakan, kegiatan pembentangan bendera mendapat respons positif dari masyarakat. Bahkan, warga telah berdatangan sejak pagi sebelum acara dimulai.
“Kegiatan itu jam 11.17, tetapi jam 09.00 sudah datang. Bahkan ada yang menghubungi kami menanyakan kegiatan jadi atau tidak. Artinya antusias masyarakat sangat luar biasa,” ungkapnya.
Setelah prosesi detik-detik Proklamasi selesai, suasana di lokasi berubah menjadi lebih semarak. Warga dari berbagai usia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengabadikan momen.
Anak-anak hingga orang tua terlihat berfoto dan berswafoto dengan latar belakang bendera Merah Putih raksasa.
Bagi masyarakat yang hadir, peringatan kemerdekaan di tengah jalan tersebut bukan sekadar seremoni. Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk menumbuhkan rasa nasionalisme sekaligus mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu momentum kemerdekaan.
Bendera berukuran 17 x 8 meter itu pun menjadi simbol kebersamaan warga Tarakan dalam memperingati 81 tahun Indonesia merdeka. (*)





